ngulat tipah tradisi yang tertinggal
“ngulat tipah” karya sasak yang semakin pudar
Memamahami nilai budaya secara lebih mendalam adalah sesuatu yang sangat sulit karena setiap budaya adalah cerminan dari masyarakat yang hidup dari kelompok yang membiasakan diri dengan hal-hal yang menjadi pemikiran yang sederhana namun mendalam makna dalam perjuangan mempertahankannya.
Pada era globalisasi modern sekarang ini, orang cenderung memiliki pemikiran yang sangat luas yang menyebabkan kebiasaan-kebiasaan yang sudah ada dalam diri menjadi pudar dan memilih jalan pemikiran yang artenatif. Namun hal ini akan menyebabkan kebiasaan yang menjadi tradisi yang hidup dalam satu kelompok menjadi pudar. Sangat sulit mempertahankan tradisi atau karya sebuah kelompok yang sudah menjadi turun temurun yang di pengaruhi oleh setiap elemen-elemen gaya hidup yang modern.
Karya dan tradisi sebuah kelompok atau suku semakin lama akan semakin pudar termakan oleh modernisasi apabila tidak dilestarikan kembali. Karena itulah yang menyebabkan penulis tertarik untuk mempublisasikan kembali sebuah karya atau kerajinan suku sasak yang dinamakan “ngulat tipah” atau membuat tikar agar tidak dilupakan karena terpengaruh oleh produksi-produksi bergaya eropa.
“Ngulat tipah” biasa disebut orang sasak adalah kebiasaan inaq-inaq (sebutan ibu kepada orang sasak) yang menjadi rutinitasnya setiap hari yang dilakukan didalam rumah. Namun dewasa ini ngulat tipah semakin di tinggalkan dan beralih ke pada produk luar yang memiliki kualitas dan tampilan yang lebih menarik.
Memang apabila melihat cara pembuatan “tipah” sangat rumit namun apabila dilihat dari unsur budaya ini adalah suatu karya orang sasak yang dapat dilestarikan dan dikembangkan sebagai khasanah budaya orang sasak. Ngulat tipah ini bisa kita temukan di desa Kuripan Selatan dusun Tunggu Lawang Lombok Barat yang berada di kaki Gunung Sasak.
Cara pembuatan “tipah” ini dimulai dengan mengambil daum pandam yang berduri kemudian apabila sudah banyak terkumpul daun pandan kemudian di bawa pelang. Setelah itu daun pandan di iris durinya diatara duri sisi kiri, sisi kanan dan tengah. Apabila daun pandan sudah bersih dari duri setelah itu daun pandan di jemur sampai kering. Proses penjemuran ini memakan waktu sampai 5-6 hari tergantung dari tingkat panas terik matahari. Apabila bila pandan ini sudah kering kemudian di pandan di gulung dan erat kuat-kuat sampai berbentuk lingkaran. Setelah pandan yang di gulung ini di jemur lagi di terik matahari sampai kering yaitu selama 2-3 hari. Setelah proses ini sudah selesai barulah ngulat tipah bisa dilakukan.
Ngulat tipah memerlukan keahlian yang khusus, tidak mudah orang bisa ngulat tipah karena itulah yang menjadi daya tarik dari ngulat tipah ini. menurut inaq-inaq yang menggeluti ngulat tipah ini, depergunakan untuk tempat duduk apabila tamu berkunjung kerumah mereka atau ada acara adat yang dilakukan.
Maka dari itu ngulat tipah harus dilestarikan dan menjadikannya sebagai tradisi atau karya asli dari suku sasak yang harus dpromosikan keberadaannya untuk bisa dijadikan budaya wisata.



Comments
Post a Comment